Showing posts with label kuliahan. Show all posts
Showing posts with label kuliahan. Show all posts

Friday, September 07, 2012

Gelar

Kamis, 6 September 2012
15.36


Pintu ruang 4F terbuka...

"Diofany, ..." panggil Pak Ari saat gue lagi nangis sesenggukan dihadapan teman-teman gue setelah dua jam gue di'dadar' habis-habisan sama ketiga dosen penguji. Dua diantaranya berpredikat "killer".

Panggilan itu menandakan kalau gue harus masuk lagi ke ruang 4F yang terasa amat sakral buat gue. Hapus air mata, pasang kacamata, latihan senyum, benerin rok pinjeman junior yang terlampau kegedean buat gue, menegaskan cara berdiri, dan hap, melangkah masuk ke ruangan disertai sorakan semangat dan dukungan dari teman-teman gue.

"Silahkan duduk, Dio," kata Pak Ari, saat gue masuk dan menutup pintu ruangan.

Gue duduk. Terseyum. Dosen-dosen yang gue tatap dihadapan gue menatap gue dengan penuh cemas dan... kecewa. Ya mungkin bisa dibilang gitu. Karena berkali-kali mereka berkomentar "IPK kamu segini loh, kenapa jawab antara SUN sama SBI aja kebalik-balik sih?" atau "Manajemen Investasi kamu dapet A, ini kenapa saya tanya obligasi sama saham aja kamu pake mikir dulu? Ya ampun, Dio, itu kan sepele!" atau "Lah ini nilai B+ kamu dapet darimana dong jawab itu aja cuma bisa seperempat jawaban. Ngga full itu!"

Lo tau kan pasti gimana melon di-blender? Nah lo bayangin aja mental gue ngegantiin melon. Gitu deh jadinya. Jus mental.

"Skripsi kamu sempurna, saya bangga dengan hasil pengerjaan kamu. Tapi..."
*mulai sesek napas* *stay cool, tetap senyum*
"...kompre kamu..."
*tetap senyum*
"Kamu siap ga belajar lagi?"
*senyum, tanpa jawaban apa-apa*
"Harus siap belajar lagi ya."
*masih senyum, mulai mikir mau bayar sidang ulang pake duit sendiri biar mama papa ga kecewa*
"Siap ga siap pokoknya kamu harus belajar lagi..."
*pasrah*
"...di kuliah S2."
*nangis*
"Selamat, Diofany Hervilita, kamu lulus!"
*nangis sesenggukan, lega*

Pak Ari akhirnya menyuruh teman-teman gue masuk ke ruangan, dia nanya "Coba kalian sebagai temannya Fany, ini anak lagi nangis bahagia apa nangis sedih?"

Lupa siapa yang jawab, tapi ada dari mereka yang jawab "nangis bahagia paaaakkkk" karena saat Pak Ari bertanya itu, bengek gue rada kumat. Sesak napas udah kayak orang asma -__-

Dan... ya... gue lulus. Udah ada gelar di belakang nama gue: Sarjana Ekonomi--yang gue dapat dengan cara yang ngga gampang. Butuh biaya Rupiah, waktu, tenaga, mental, kesempatan... pokoknya biaya deh! Dan di Indonesia Banking School sendiri persaingan lumayan rumit, dosen banyak yang killer. Untuk sekedar dapet nilai B, kalo ngga ada niat belajar, jangan harap minta kebaikan dosen.

Begitulah Indonesia Banking School, institusi kebanggaan saya :)


Selesainya skripsi dan masa jabatan gue sebagai mahasiswa S1 ga bakal ada tanpa nama-nama di bawah ini. Mereka semua berperan penting. Terimakasih. Sungguh. :)






My Super Pompom Team




Thank You very much, dear Allah, for loving me this way: giving me all these people to hold my back when I think I'm falling behind. Thank you guys, for your presence and existence on that "judgement day", simply be there just when I need you to be. Good luck for each of you, may Allah give you good things in return :')



mata sembab, masih berair, abis sesek napas... S.E jugaaa~



Alhamdulillah :)

Thursday, July 19, 2012

Dikejar 'Deadline'

Sore ini gue beserta cewek-cewek gue main ke salah satu tempat di Kemang. Sebut saja Seven Eleven Codefin (itu mah sebut lokasi beneran fan -___-). Dengan gaya bak teenager, kita beli cemilan-cemilan dan tak lupa disertai keju sevel yang merupakan satu-satunya produk gratis yang bisa dinikmati di Ibukota.

Awalnya kita ngobrol mulai hal-hal yang ringan dan bersifat ke-kuliah-an. Misalnya, bahas Icana yang baru aja semhas, Rina yang lagi nungguin telfon dari kampus untuk kabar jadwal semhas, Tika yang baru memulai nyusun skripsi, dan gue yang (terpaksa) menunda sidang sampai bulan September. Itu baru awalnya. Akhirnya?

Before going to the end, it's just something you might need to know that we (especially me, Icana, and Rina), twenty-something ladies, actually have been thinking of... you know... having a "settle" life. Like... finished the bachelor degree, working on a carrier, meeting a man--the gentle one, and yup, I suppose you can already guess! It's getting married.

I know, it's harder to act rather than saying it. Example, marriage is not always as happy as it is crossed your mind. Belajar dari keluarga kakak sepupu gue dan kehidupan rumah tangga nyokap-bokap gue sendiri, gue paham betul kok "pernikahan" itu bukan sesuatu yang gampang. Dan tidak sesempurna saat kita menulis cerita tentang a happy marriage. Theory is never happening in real life *I'm so skeptical.

duh kok berat amat ya omongannya? S.E aja masih September. belom cari kerja, belom beli mobil sendiri. dan belom juga dapet calonnya! *jleb*

Anyway. I don't think it's wrong for me (and my friends or even you) talking about marriage.

So, Icana bilang gini sore tadi: "Gue tuh maunya yang serius, Fan. Kalo untuk pacaran lagi kayaknya gue males deh, buang-buang waktu. Ga jelas pacaran tuh sebenernya mau dibawa kemana hubungannya. Mau main-main, apa mau serius. Gue udah capek kalo buat main-main aja."
Ada benernya sih. Pacaran lama... say, 5 years or perhaps 7 years, but when you're not going anywhere but staying there... well... I don't think it's a serious relationship.

Lain lagi Rina, yang males memulai dari nol untuk kenal sama pria baru sampai akhirnya menjadi 'sesuatu'. "Gue males sih mulai lagi dari awal..." Selalu itu kalimat yang jadi alasannya kalo gue suruh kenalan sama orang baru. Dan gue pikir, bukannya dia ga mau kenal sama orang baru. Mungkin belum saatnya aja dia bertindak untuk kenalan. Lagipula, udah kurus dan makin cantik gini pasti nanti banyak yang in line dibelakang lo minta nomer lo and call you maybe, Rin. Azeeekk :D

Kalo Tika sih katanya santai kalo soal jodoh. Uni yang satu ini mungkin bakal dijodohin kali yah? Hihi :p Tapi bener loh. Jodoh itu kan udah ada yang atur, ya gak?

"Jodoh itu di tangan Tuhan. Jadi kita harus ambil jodoh kita dari tangan-Nya."

Kalo lo, Fan?
Gue? Hmm... gue selama ini udah cukup digantung-gantung, diombang-ambing ga jelas *sambil kemudian lagu mau diibaaawaaa kemanaaa hubungaan khithaaaaaaaa terngiang*. Gue mungkin sama seperti Icana. Pengennya settle dalam suatu hubungan yang bisa dibawa ke pelaminan *aiiihhh mimisan*. Tapi kalo emang jalannya gue mesti terombang-ambing dulu atau naracap dulu ya... itu kan jalannya. I don't set how it would be. I just set "my time" to be.
#curcol


Me - Icana - Rina


Hmm... dikejar 'deadline' kah kami para ciwi-ciwi yang baru akan diwisuda November ini? Kita udah mature-kah? Adult? Atau hanya emosi dan angan belaka? Pengharapan?

Snow White could dream of having her Prince coming to kiss her awake. Cinderella wished to have a Prince that could save her form her step-mom cruelty. Princess Viona has waited long enough to finally met Shrek who kissed her curse away. So, me dreaming away for my future gentleman who will spend our lifetime with, to be my imam, to cook him dishes, and to be his only one spirit, has never seemed to be a problem.

But then a question appears: Who?
Remains a mystery.


"Ya Tuhan, jodohku turunin dong, jangan dipegang mulu..."

dream wedding: sea side...

Saturday, July 14, 2012

The Jakarta Model UN 2012 Experience

I was asked by a friend of mine, who was in charged for Jakarta Model United Nations 2012, to be one of Campus Coordinator without any CV to submit (but anyway in the end of it all, the Campus Coordinator Manager asked me to submit my CV in order to fill out the database). From then on, I was the Campus Coordinator (furthermore you'll find this abbreviation as CC) for my institution, Indonesia Banking School.

It was SO hard, you know, to introduce a brand new activity besides banking and economics since this kind of international activity is so International-Relation, so much "diplomacy", which just didn't fit our instituion mission: be a great banker.

I put a lot of effort to attain my own goal as CC: having 2 or more delegates from Indonesia Banking School, therefore people will recognize the existence of Indonesia Banking School who just turned out to be an 8-year-old institution this year.

Anyway, for all of the effort I already gave, I had these guys in return to be the Distinguished Delegates from Indonesia Banking School: Mas Lukito Pakusadewo and I Dewa Made Agung Kertha Nugraha  who passed the selection progress (formerly I had 3 gentlemen who applied: them mentioned above plus Bayu Ramadhan Putra. Somehow Rama didn't pass the selection process. I think that was fine for him since he got that Abang-None stuff to work on).

Luki - Me - Dewa


Though I didn't attend the full conference of three days (I only attend 2 days--4 sessions--while the full conference was held in three days) but I can sum up that IT WAS TOTALLY INTERESTING having myself in a group of smart and critical people who dare to speak up and having themselves to be the attention while they were debating of some international issues. Great moments, great people, great minds, great debate--JUST GREAT.

Well, I too have to say that some times I found myself bored about that Final-Resolution-so-we-can-save-the-world-from-GHG-emission but hell about it. In the end, I find it was all pretty much amazing and somewhat a new experience for me!

From only being a CC and having my own goals, spreading the news out, getting these two gentlemen as delegates, opening ceremony and cultural night (which I couldn't come), conferences, flash mob, committee dinner, city tour through gala dinner, I enjoyed all that. I met new people, got new mind, experienced something I haven't had, had new acquaintances, and yep, got this new topic to write about. Hehe.


At Ragunan Zoo: Tree Planting Act, Social Act, Zoo Tour and Games.
We were having a game here in this photo. It was "picture you and your teammates with a certain animal based on the clue you got"

Yulia - Rizka - Me - Abi (he's a sweet, shy, childish high school student)

Dina (STAN) - Yulia (Politeknik Manufaktur Astra) - Rizka (Politeknik PLN) - Me (Should I elaborate again?)

Some UNFCCC girls

My two gentlemen: Luki and Dewa: Delegate of Slovakia (UN-GA) and Kazakhstan (UNFCCC)

Some of UNFCCC (plus one UN-GA) boys

UNFCCC at the Committee Dinner

UNFCCC after Flash Mob

Me on Flash Mob


I believe there are many other things that I couldn't write all that here in one post, like I met some people with a well-trained British accent (and obviously made me go like ergh-I-want-that-accent-too and how-could-you-speak-such-accent-!), some Laos people, the Malaysian delegate, some people who go abroad to study, some high school fellas (ow yeah I'm so young! \m/), and *uhuk* a little bit of drama. Well in every event I suppose, there'll be some kind of drama. LOL. Anyway, forget it.

Oh, it was also a TOTAL REFRESHMENT after I had my skripsi done and my seminar hasil done! Woohooo!

So, shall I had another MUN? Perhaps abroad?


DELEGATE
DIOFANY HERVILITA
DOMINICAN REPUBLIC
UNFCCC




Monday, July 09, 2012

Roller Coaster Day

Hari ini mood gue diputer-puter, jungkir balik persis seperti roller coaster yang naik ke atas, muter-muter, menukik ke bawah, lalu terhempas kanan-kiri.


Dimulai saat handphone gue, yang gue anak-tirikan sejak gue punya si beri, berdering. Butuh beberapa waktu untuk mencari keberadaan hp itu yang ternyata ada dibawah tumpukan baju yg belum digosok. Incoming Call menandakan kalo gue harus bangun dan dipastikan pula, saat panggilan itu masuk, udah jam 5 pagi subuh. Beberapa menit kemudian, si beri hitam berdering. Missed call dari Silvia, atau Ipi, temen gue yang bakal jadi asisten gue saat gue semhas (yang seharusnya) hari ini, jam 9 pagi.

Opening Slide

Setelah leyeh-leyeh beberapa menit (well, 25 menitan alias gue ketiduran lagi. gimana ngga, gue tidur sekitar jam 2 dan udah bangun lagi jam 5 cuma buat prepare semhas jam 9 yang ujungnya... ditunda), gue bangun, ambil wudhu, sholat subuh, lalu baca isi skripsi dan mempelajari teori dan rumus Cost of Fund, Cost of Loanable Fund, Cost of Money dan Base Lending Rate.

Sekitar jam 7 Ipi nyampe di kosan gue, dari Bekasi, demi jadi notulen dan asisten buat semhas gue (sungguh Pi, gue terharu). Lalu gue mandi, jam 7.30 berangkat ke kampus, sampe kampus, latihan presentasi.

Mood yang bagus, pagi yang cerah, aktivitas yang lancar, suasana yang mendukung, harus dipatahkan saat dua handphone gue menerima sms dari orang yang sama. Bapak Dosen Makro Ekonomi dan Perbankan serta bintang iklan Chevron yang berperan sebagai profesor. Apakah isi smsnya?

"Assalamualaykum semhas diundur besok jam 13"

Seeeeeeerrrrrrrrr

Tau ga rasanya kalo lagi naik kora-kora di Dufan? Naik.... terus turun.... dan jantung seperti ketinggalan di udara. Rasa capek, marah, bete, bosen, kesel, sedih--nyampur semuanya.

Gue langsung minta konfirmasi ke bagian akademik. Pihak akademik ternyata ga tau tentang diubahnya jadwal semhas gue jadi Selasa, 10 Juli 2012 jam 13.00.

Staff: Semhas kamu memang bukan sekarang
Gue: Gimana bisa bukan sekarang pak orang jadwal semhas saya ya hari ini, jam 9
Staff: Maksudnya bukan sekarang, bukan jam 9
Gue: Lah terus kapan?
Staff: Jam 11, hari ini.
Gue: Terus kenapa saya juga ga dikabarin kalo jamnya diundur jadi jam 11? Ada perubahan dalam jadwal kenapa ga ada yang komunikasiin ke saya sih--subjek yang mau semhasnya? Kok ga komunikatif banget?
Staff: Si mbak itu lagi cuti.
Gue: Terus staff cuma mbak itu doang? Bukannya banyak? Terus kenapa sekarang saya terima sms dadakan kalo semhas saya diundur jadi besok, jam 11, 30 MENIT SEBELUM SEMHAS SAYA MULAI? *udah mulai emosi*
Staff: Kalo itu saya ga tau mbak...

Dengan perasaan campur aduk yang didominasi rasa kesal, gue temui dospem gue. Alasan klise. Yak, betul. Apalagi kalo bukan alasan "dosen yang berhalangan". Alasan jitu dan gue yakin bukan cuma di kampus gue aja, tapi di semua kampus, buat mahasiswanya yang udah luntang-lantung diputer sana-sini.

OK fine. What else can I do? Gue jadi ga enak sama temen-temen yang dateng ke kampus cuma buat liat semhas gue. Sama Ipi, karena udah pagi banget ke kosan terus ke kampus buat jadi asisten dan semhas gue. Sama Rehan, Devi, Novi yang ke kampus cuma buat liat semhas gue. Yah.. gimana.. mau minta maaf pun bukan salah gue tapi... maafin deh ya...

Dan akhirnya gue nurut ajakan Luki, delegate JMUN dari IBS, yang bilang biar gue nyusul mereka (Luki dan Dewa) di acara JMUN di Walikota Jakarta Pusat. Dengan kepala penuh, gue ke kosan buat naro laptop dan berkas semhas, ambil blazer, ganti sepatu, dan langsung cus ke venue.

Disanapun gue cuma sekitar 20-30 menit. Diem-diem gue, Luki dan Dewa cabut ke Plaza Indonesia. Hahahaha. Disinilah mood gue membaik. Walaupun gue ga beli apa-apa selama kita di Aksara (niatnya sih beli satu buku tapi lirikan dompet itu tajem banget. Ya gajadilah), tapi cukup gue dibuat ketawa dan obrolan kita selama dijalan cukup bikin gue tenang dan santai.

Mood gue sekarang? Hmm... gimana yaa?

Friday, June 08, 2012

Mahasiswa Bersistem Kebut Semalam

Nama : Diofany Hervilita
NIM  : 200811026
Hobi : Mengaplikasikan Sistem Kebut Semalam setiap belajar buat ujian

Yap. Persis seperti kemarin malam. Gue baru ada niatan buat belajar sekitar jam 4 sore dan itupun gak langsung duduk diem atau ngelesehan di karpet dengan kertas dan materi yang stand by di laptop. Biasa sih, memang gue biasanya begitu. Dasar pemalas :S

Semalam adalah aktivitas belajar gue menjelang UAS untuk yang terakhir kalinya sebagai mahasiswa di Indonesia Banking School. Karena memang masih ada satu mata kuliah lagi yang mau gue cuci nilainya ehehe. At least segala kertas bekas slide dan fotokopian yang masih gue simpen dengan niat me-reuse kertas itu jadi terealisasi. Ya paling ngga kertas-kertas bekas itu masih ada fungsinya kan, buat bikin catetan dan belajar, selain buat tatakan kalo makan nasi bungkus, lap meja kalo ada tumpahan air, gambar-gambar ga jelas (mostly gambar muka kucing. tapi keseringan gambar muka kucing gagal sih), tutupan kompor listrik, bikin kerajinan tangan, dan bungkus pembalut bekas (oke this is just to be honest. well at least they're worth it and I reuse them).


catatan terakhir gue menuju uas terakhir
*drama*


Gue, atau mungkin kalian juga, pasti bakal kangen sama cara belajar gue ini. Gue biasa belajar mulai sore sampe malem banget. Gak sampe pagi sih, paling lama gue belajar cuma sampe jam 2 pagi (ya tetep aja kan itu pagi fan -_-) dan metode yang gue pake adalah laptop mantengin slide (atau buku) terus siapin kertas bekas yang belakangnya masih kosong (kadang kalo ada coretan dikit pun gue hapus atau tip ex saking go green nya *atau mungkin gue pelit?*) nah kertas itu dilipet dua memanjang, tulis Bismillahirrohmanirrohim di paling atas kertas, judul chapter atau materi di samping kiri, terus baru deh gue menulis apa yang gue baca. Dengan begini, itu kertas bisa gue bawa tidur sambil baca. Coba lo bayangin kalo belajar dari slide pake laptop. Mau bawa-bawa laptop terus baca slide sambil tiduran? Selain ribet dan kemungkinan laptop jatoh, tangan lo juga jadi keram dan kesemutan deh.




Belajar sampe malem pagi dengan sistem kebut semalam, kamar yang ga pernah diberesin kalo udah masuk minggu ujian, me-reuse kertas bekas jadi catetan materi UAS, baca materi yang udah dicatet sambil tidur (walau ga pernah sampe ketiduran), sampe kampus kertas catetan laris manis dipinjem rekan sejawat (ehehe), kaki yang sering keram dan kesemutan karena dilipet sila mulu, tiba-tiba lupa naro penghapus dan heboh nyariin sampe kolong lemari (taunya ada dibawah kertas), lepas kacamata sebentar terus heboh nyariin kacamata sampe ke kamar mandi (padahal ditaro diatas laptop), dan sebagainya dan sebagainya... 
#MahasiswaMoments

Mahasiswa. Sekejam apapun dosen ngasih cobaan, sekejam apapun peraturan ditegakkan, tetep, ga ada yang bisa menandingi akal mahasiswa.

Yaiyalah. Cabut dan titip absen, misalnya. Atau permisi keluar kelas dengan alasan ke toilet tapi ga balik-balik sampe kelas selesai (tapi tidak lupa sebelumnya udah isi absen sampe full). Atau tidur dengan anteng dipojokan waktu dosen ngajar. Atau siapin contekan rumus dibalik kalkulator. Ujian open book dan pake buku sendiri tapi masih tetep bisa minjem kanan-kiri bagi yang ga punya buku. Belum siap presentasi tapi ngaku ke dosen flashdisk ilang dan komputer kena virus terus dokumen ilang. Atau materi presentasi dibawa temen dan temennya ga masuk. Ngakalin satpam yang suka ngawasin mahasiswa pake jeans (karena di kampus gue ga boleh pake jeans). Melanggar aturan harus pake sepatu tapi malah pake sepatu sendal. Ditambah lagi ngakalin semua pihak regulator kampus dengan membawa kartu dan main kartu di kelas. (err, ini lagi ngomongin gue ya? -..-)

Ealah, gue kan seminar hasil aja belom yak, kok udah mellow mellow sendu gini sih ngomongin kuliahan? -____-

But for sure, I'm gonna miss me as MAHASISWA...

Tuesday, May 29, 2012

Skripshyt

Galau skripsi 1000 kali lebih galau dari putus cinta ya ternyata. Putus cinta, tinggal cari lagi yg lain. Nah putus skripsi??? :\
@fanyhervilita


Semenjak sang dosen pembimbing menolak olahan data gue yang udah apik tenan dan bikin gue nangis serta bikin hati gue kejang-kejang, gue belum ada rencana untuk kembali ketemu dia lagi di kantornya. Gue takut. Gue galau. Gue gamang. Gue butuh bimbingan. Tapi gue merasa si dosen pembimbing belum pernah benar-benar membimbing gue biar cepet selesai skripsi. Tau de ah.

Beberapa pernyataanpun makin bikin gue kalut ga karuan. Pernyataan seperti:
   "lo kan best academic 2011, masa gitu aja ga bisa"
   "pake spss ga bisa tapi pake eviews bisa ya? ahahaha pinter banget sih lo fan" | 
      "kan best academic cooyy" | "oiyaaa gue lupa ahahaha pantesan pinter"
   "kakak kok ambil KUB 2 lagi? cuci nilai apa sih ka, sejelek-jeleknya nilai kakak paling B-"

You know what, I DON'T EVEN ASK WANT TO BE THE ONE WHO CAME OUT WITH BEST ACADEMIC TITLE. And I'm not that smart, FYI. Bahkan dosen pembimbing gue bilang kalo gue itu "kosong". See? Your compliments (if it does mean as a compliment) are nothing.

Masalahnya apa sih fan?

Masalahnya adalah gue dikejar deadline. Deadline gue yg akhir Mei harusnya udah selesai segala perkara olahan data, jadi harus mundur sampe gatau kapan. Oke, olahan data gue sebenernya udah jadi, udah selesai, done, wrapped up... kalo si dosen ngga minta yang macem-macem. Ah taulah. Entah gue yang emang kosong atau dosen gue yang banyak mau. Tapi yang pasti, kembali ke aturan nomor satu: Dosen Selalu Benar. Fcuk.

Dan papan hitam bertuliskan "BEST ACADEMIC 2011" yang ada dihadapan gue sekarang seperti minta kejelasan, minta pertanggungjawaban. Well fcuk you! I never wanna win such title!


 WHAT ARE YOU LOOKIN AT, HUH?!


*inhale* *exhale*
tenang fan, tenang...

Bukan cinta yang membunuhku. Tapi skripsi.


read Behind All That "Best Academic 2011" Euphoria and This One's for You and Me! to overcome your curiosity of what Best Academic 2011 title is.
 

Sunday, April 01, 2012

So, What's Next?

I really should be working on my bachelor thesis instead of posting a new post. But my lecturer just shocked me this evening by saying that I should be starting to work on my thesis from chapter 4. Wha-----



dan sang dosen pembimbing membalas dengan senyuman tersipu

telah membuat mahasiswanya sport jantung...



Someone I talked to this evening even guessed, "mungkin becanda", yea, today's April Fool and I got fooled by this same person too BUT my lecturer doesn't know how to joke. Really. So when he said "...saya mau baca bab 4..." then I HAVE TO work on chapter 4. That simple. That simple.

Leave it there.
What I really want to share in this post will start from this question:

"Jadi abis lulus skripsi mau ngapain, Fan? Nikah?"

*giggle*

Tell ya the truth, I have been thinking about this so-what's-next question like everyday, even before I was being asked, LOL! It's just surprised me that the person-----

OK. Hmm, next... the next chapter of my life after passing this bachelor degree would be applying what I have been learning through these times on a career. A banker would be appropriate to me and which I'm seeking for a career at the bank too. I'm not going to take a long career time, by the way. It will probably 2 - 3 years of employment at the bank and then... *clear throat* get married! :D :">

Besides, it's not like I'm going to get married straight ahead after I pass the comprehensive test, though. I haven't even got boyfriend or husband-to-be. Looking for "the other half" is never that simple, buddy. Naah.

Or is it you the one who's gonna marry me? Like what you've twitted the taaruf thingy in response to my tweet? :">
*wink* 
#abaikan

"So what about your plan for a master degree?"

Umm, yea. Another person asked me another question. Actually it's not my plan--it's my mum and dad's. Well, I actually want to take a Magister Management as my last name but... maybe later. Terms and conditions applied, lol :D

So it's my long term plan. For this short term, I really want to get over with my thesis and move on from being a student into a banker. This year. Amin.

But I do really believe that what's unplanned is the best planned. Cos God planned it perfectly.

What about you, fellas? ;)

Friday, March 30, 2012

Demo Demo Demo

Indonesia is currently on fire again. I mean, not that fiery fire, but still. Even stuff like that brought some heat to my timeline since yesterday night and that I couldn't help myself to comment on stuff being issued and talked about.

So here's the thing. I'm going to write type this in Bahasa if you don't mind?

Jadi, sedang ada demo besar-besaran dan cenderung anarkis di Indonesia. Beberapa kota seperti Jakarta dan Makassar adalah yang paling sering gue denger berita dan kehebohannya. Demo tentang apa? Tentang harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang (diisukan) naik per tanggal 1 April 2012.

But hey. What the big thing is about?

Mahasiswa (atau pihak manapun yang ikut berdemo) merasa sangat peduli terhadap nasib rakyat kecil yang akan menanggung beban hidup yang lebih besar dari yang sebelumnya akibat kenaikan BBM. Dan mereka juga menuntut adanya perubahan...yang sampe detik ini masih abu-abu, perubahan apa yang sebenarnya mereka inginkan? Perubahan sistem pemerintahan? Perubahan gaya hidup? Atau perubahan dari ketenangan menjadi kericuhan di jalan? Hmm...

Well, I learnt economics like ever since I was in Junior High and get specified in Senior High and get even more specified in Indonesia Banking School, my university-like now. And by this, I know, even just a little bit, about what happened beyond the rising price of Bahan Bakar Minyak, from the point of view of economy.

Jadi, naiknya bahan bakar minyak itu diakibatkan adanya scarcity atau kelangkaan crude oil (minyak mentah). Tau dong minyak itu sifatnya apa? Yap, unrenewable resources, which means, this kind of resources really take quite a very long time to renew itself and cannot be renewed in a short term. Jadi, dengan pemakaian yang banyak sedangkan sumber daya yang terbatas ini, minyak akan habis, dan di situasi inilah terjadi kelangkaan, seperti yang sedang terjadi sekarang.

Kelangkaan, akan membuat Q (Quantity-Kuantitas-Jumlah) minyak yang diproduksi semakin menipis. Nah, hukum ekonominya nih ya, kalo barang yang diproduksi itu langka atau sedikit tapi permintaannya tetap (atau bahkan lebih banyak), maka P (Price-Harga) akan naik. Naaahhh sob, inilah sob yang sedang in di Indonesia.

So how about the inferior group of people you said?

Hey, I haven't explained much yet, buddy.
So, in response to the rising price of bahan bakar minyak in Indonesia, memang, semua harga barang akan naik. Harga barang yang cenderung naik ini mengindikasikan bakal ada inflasi dong, bener doooonngg? Nah, akan ada justifikasi ekonomi nantinya, dimana pendapatan atau gaji akan ikut dinaikkan, dan voila...bakal sama aja nantinya, sesudah atau sebelum harga bbm naik. Maunya sih jelasin teori lengkapnya, tapi kebetulan lagi lupa ini teorinya siapa hehe.

Lagipula, apasih yang diharapin dari demo? Setelah demo yang capek capek itu, infrastruktur yang dirusak bakal diganti. Digantinya pake APBN. APBN itu asalnya dari duit rakyat yang diambil dari pajak. Pajak dibayarin sama orangtua para mahasiswa yang ikutan demo. So? Not worth it.

Dan setelah demo juga bakal ada krisis. Krisis politik, yang paling utama. Ya kalo politik kita masih ngga stabil kayak gini, mana ada investor asing yang mau menanamkan uangnya ke Indonesia? Kalo I (Investment) turun, terutama Foreign Direct Investment yang turun, perusahaan bisa kekurangan modal untuk melangsungkan produksinya. Produksi turun, pendapatan produsen bisa turun juga karena ngga ada dana untuk produksi. Yah, kalo udah bawa bawa pendapatan yang turun, ngerti lah yaa maksud gue gimana.

Dan, oia, terkait dengan dunia perbankan. Masalah kredit. Penyaluran kredit itu bisa jadi indikator kenaikan GDP loh. Dan itu adalah aset bank yang terbesar yang bisa mendatangkan keuntungan buat bank. Coba inget tahun 98-99 dulu deh. Setelah demo kan ada krisis moneter, di jaman itu ada fenomena credit crunch loh *ngomongin skripsi sendiri. uhuk*. Fenomena dimana bank ngga mau menyalurkan kreditnya karena...macem-macem. Salah satunya ya karena politik yang belum stabil dan bank ngga mau ambil pusing terhadap risiko psikologi rakyat yang masih labil.

Kalo kredit ngga mau disalurin sama bank, gimana coba para pelaku SME (Small Medium Enterprise-UMKM-Usaha Menengah Kecil Mikro) modalin usahanya? Padahal yang lo tau sendiri kan, pelaku SME inilah salah satu yang bikin Indonesia ga terpengaruh krisis Eropa.

So...solution?

Menurut gue, ngga perlu capek-capek demo. Kalo memang kita pintar, cerdas dan berbudaya, coba pake inisiatif dong. Demo kan bikin rakyat kecil yang hidup di jalan keteteran juga, kan. Jadi apa yang sebenernya mereka bela, kalo mereka juga nakutin orang-orang yang hidup di jalan dengan aksi demonya.

Kalo inisiatif dan saran dari gue sih ya, coba dong mahasiswa bikin bahan bakar baru yang bisa menggantikan minyak yang sekarang mulai abis. Dari apa kek, batok kelapa kek diubah jadi bahan bakar. Atau dari minyak jelantah kek. Atau dari apa kek. Gue sih ngga bisa bikinnya ya, cuma sekedar kasih saran aja hehe. Tapi gue bisa bantu pasarin produknya loh, secara gue juga belajar ilmu marketing juga kan ;) Atau gue bisa bantu me-manage keuangan cikal bakal perusahaan bahan bakar baru pengganti minyak ;) ;)

Oh! Oh! Atau, belajar yang bener, yang pinter, dan dedikasikan ilmunya buat Indonesia. sukur sukur Indonesia punya sumber daya manusia yang cerdas, jadi bisa mengelola SDA nya sendiri tanpa ada campur tangan dari pihak asing, seperti yang sudah-sudah.

Damai loh ya, gue menulis di blog ini cuma untuk mengeluarkan aspirasi aja. Seperti yg udah gue twit juga di twitter gue @fanyhervilita hehe :p Kalo ngga suka, ya gapapa. Kan mereka bilang ini negara demokrasi, dimana siapa aja bebas berpendapat. Jadi, ini looh pendapat gue :)


HIDUP MAHASISWA CERDAS BERINISIATIF!!!


Beberapa twit gue tentang demo, harga bbm naik, dan pandangannya dari sisi ekonomi :)

Tuesday, March 27, 2012

MUN for the Future Bankers

Hello!

So here I am again! End up putting some ideas out to this blog while I actually got another necessary thing to do like, perhaps, wrapping up my bachelor thesis. Duh.

Forget about it for a while.

Hey! Ya ya, forget about me! You've been forgotten about me like the whole in a while time, buddy!
Regards, Your Thesis.


Anyway. I got this job being a Campus Coordinator of Jakarta Model United Nations 2012 for my institution, Indonesia Banking School.



Basically, what I'm doing is to market this international event to my colleagues and reap as much participants as I could. But honestly, what people said and what I have heard all this time turn up correct: theories would never 100% applied practically. I've done this and that, spoken here and there but really, to market MUN to all my future-banker fellas is not an easy stuff.

First, Indonesia Banking School is not a university. It only consists of small numbers of students compared to other uni. IBS, as its name, is a banking school (economics), with only two study focuses: Management and Accounting. IBS accepts only approximately 150-200 students per year, very often below 150 accepted students but never over 200 accepted students per year. And this small number, ugh, frankly speaking, only a small number of students too who really open their mind to try something really new out of economics.

Secondly, IBS is soooooo banking! Workshops, seminars, internships, blalala is always about banking and other financial services. If it's not about banking, then it's about marketing. And if it's not about both, then it's about auditing.

In my case right now, JMUN is a veeeerrrrryyyyy new stuff for my colleagues. Whenever I ask them to join this event, they like "ini apaan fan?" or "JMUN apaan sih kak?" or "ngaruh ke nilai?" or simply "oh". Phew, really need an extra energy.

So here's my extra energy given, now I already have some colleagues who really are interested to join JMUN and experience something new. After this mid test, these two weeks, they'll be applying for JMUN officially and welcoming themselves to try something out of the box. Wait for another future-bankers to apply, hey committee! ;)

Here is briefly about JMUN from its site:

Jakarta Model United Nations (JMUN) is the first-ever international Model United Nations (MUN) in Indonesia which was held by ISAFIS (Indonesian Students Association for International Studies) in 2011. MUN is a simulation of United Nations conference that is often held abroad and attracts local and foreigner students world wide.

JMUN offers a unique opportunity to experience the challenges of international negotiation and diplomacy. The participants (hereinafter referred as delegates), will play a role as the representative of member counties of United Nations. Throughout the conference, delegates will gain insight into the workings of the United Nations by actively participating in the resolution of important global issues.

This year, under the theme “Creating Sustainable Development through Young Generations’ Action”, there will be more than 200 delegates worldwide who will be positioned into four committees in JMUN 2012. They are: United Nations-General Assembly (UN-GA), United Nations-Security Council (UN-SC), United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) and Special Agency (European Union/EU). The delegates will discuss a certain problem regarding the topic of their committee and respond to the problem according to the stance and views of the country they represent.


More info, click jakartamun.org or follow twitter @jakartamun


Dare Trying? Apply!

Why wait? DO IT NOW!!!

Sunday, February 05, 2012

Y = C + S

Hello there.

You know, if you took a Social study on your High School, you would absolutely notice about this simple economics pattern:


where:
Y stands for your Income, C is for Consumption and S is for Savings.

And as we--or probably you who are studying economics--know that economics assumes so damn much, so here I will assume that Y is the amount of money I earn from my dad every month (I will not jot the amount here, uh oh. No.) and C is the amount of consumption I will spend every month; whereas S is... umm... is... ....

S stands for...

uhh...

Okay. I don't save money. There I said that italic.

Well literally I did save money. But my savings go easily for a branded shoes or a branded bag or a branded clothes. On a sale. Like end year sale or you know... sale sale. Because if I bought those stuff on normal price, well, it's just so not economy. You know, spend small - get big, sacrifice a few - earn more. That is the tagline of economics. So basically, that branded bag--even if it's on a sale--makes me have nothing to save.

Economics also taught me about scarcity. Scarcity is a basic economy problem where what you want and what you need is limited to the resources.


The first lesson of economics is scarcity: There is never enough of anything to satisfy all those who want it

Thomas Sowell


Thus, I realise I always have this one limit that I certainly meet every time I'm on a sale. A budget constraint.

A budget constraint means I'm in a short position. For example like when I went to a shopping centre with a shopping mate of mine (oh yea, with this post I wrote and you are currently reading, I am apparently showing you that... well... I kinda have that shopaholic soul. Kinda. Like a bit of it. Not like I'm a shopaholic shopaholic but I'm just a sort of it. Whatever.) I intended to buy those two things. But in the end I came home with only one stuff just because I couldn't afford those two prices at the same time. I came home with a grin and a sigh.

Sigh.

And for me, I am now proudly assuming that S in that pattern I showed you above stands for SALE!

Yeeaaahhh!! I made my own economics pattern! Yeaaaahhh how cool is that, huh??!! (OK I get it. I'm so lame.)

So, here, lemme explain to you a brand new pattern of economics for a shopaholic shopaholic:



Where:
Y = the money you get from your dad
C = bucks (or in this case, Rupiah) spent for every day meals as you're away from home (ngekos)
and...
S = Shopping or simply, SALE!!!

And please do note that this pattern only available to students.


Yeaahhh!! How cool is that, huh?!! \m/


Yea I'm feeling over-lame. Don't you dare stare at me like I'm the poorest and the lamest and the most over-ngenes lady in the entire world, okay.



Why am I even doing this economics-related post? I believe this is the side effect that I'm going to write my very own final thesis. And umm... I don't know. The idea of writing such a post just crossed my mind like... BUZZ! and I write this quite smooth. And I really want to deliver some value to my readers, not only a story of mine. So... I hope you'd enjoy. Hehe :D

Monday, January 23, 2012

over-creative? over-thinking? atau... over-ngenes?

hai.
nama gue Diofany Hervilita. panggil aja Fany. walaupun beberapa orang memanggil gue dengan nama nama kesayangan mereka seperti nak, kakak, diop, funi, mak, bahkan dugong (?!!!!) but anyway. just call me fany.

do i really need to state all that statement anyway??!

gue adalah mahasiswa semester 8 sekolah (ya, sekolah. bukan universitas) ekonomi perbankan yang masih belum ada niatan untuk mikirin skripsi. padahal deadline nya pertengahan februari untuk ngumpulin proposal. sebenernya ada siih, satu proposal yang udah di acc hasil kuliah metolit di semester 6 lalu. tapi ketentuannya proposal mesti ada 2. sayangnya, setiap mau mikirin judul skripsi (dalam hal ini, proposal) yang baru, pasti adaaaaa aja hal lain yang terlintas di pikiran gue.

yaa gimana ngga. baru ngebaca arti dari Irrevocable Letter of Credit aja pikiran gue udah melanglang buana. tiba tiba terlintas aja gitu statement gagal gombal seperti ini: "aku mau hubungan kita seperti Irrevocable L/C, yang ga bisa dibatalkan oleh salah satu pihak".
#gelenggeleng

atau saat gue ngeliat ada kurva Product Life Cycle yang biasanya gue jumpai di kelas marketing. mungkin sebelumnya kalian udah pernah liat kurva itu, but anyway for you guys who haven't seen it yet, or perhaps just to remind you, here's the Product Life Cycle Curve:

dan beberapa kali saat gue liat kurva ini atau bahkan saat menggambarkannya di kertas jawaban, salah satu sisi di otak gue tiba tiba berpikir "hubungan kita udah sampe mana ya sekarang? hmm, introduction sih udah lewat lah yaa. lagi di growth apa di maturity ya? jangan decline sekarang pleaaasseee"
#gelenggelengsuperkenceng

bahkaaaannn, saat di kelas Teknik Pengambilan Keputusan beberapa waktu yang lalu, saat gue lagi ngitung Standar Deviasi dari suatu.. err.. suatu.. ... let say, perhitungan, sempet aja gitu otak gue di bagian paling ngenes kepikiran kalimat "tingkah laku kamu ke aku itu udah melebihi batas Standar Deviasi! ngga wajar! terlalu banyak yang menyimpang!"
#pfffttt

apalagi pas di kelas manajemen investasi, saat gue belajar soal portofolio saham. "kalo aku perusahaan, aku rela ngejual semua saham aku. asal pembelinya itu kamu... aaa guling guling guling~"
#jedotinkepalakebuku

seperti Sales Contract pada suatu mekanisme L/C yang definisi sebenarnya adalah suatu kontrak perjanjian antara eksportir dan importir terhadap kegiatan perdagangan antara kedua belah pihak dengan syarat dan ketentuan tertentu yang disetujui. and I was like "oh semacam akad nikah ya hmm..."
#muntahdarah

gue juga pernah, saat lagi stuck mencoba mengerti suatu kondisi perekonomian dimana inflasi yang tinggi bisa disebabkan oleh jumlah uang yang beredar (money supply) yang meningkat. "berarti gue sekarang lagi mengalami inflasi. abisnya jumlah rasa suka gue ke dia meningkat siih kyaaaaa"
#KYAAAAAAAAAAA

dan sebenarnya masih banyak lagi pikiran pikiran ngenes bin gagal yang popping up entah dari bagian mana otak gue. yang pasti hal hal ngenes kayak gitu suka keluar aja tiba tiba tanpa ada aba aba. entah gue yang over-creative atau gue yang over-thinking atau gue yang over-ngenes? oke, gue ambil jawaban terakhir, terima kasih.

dan saat gue bener bener coba memikirkan judul baru, yang lain dari proposal skripsi pertama gue, and you know what pops out of my mind? this.
"analisis pengaruh percakapan via messenger terhadap perasaan dan hubungan yang dijalani secara langsung. studi kasus hati saya."

silahkan yang mau muntah.



sedikit info:

L/C (Letter of Credit): perjanjian dari Issuing Bank yang bersifat pasti dan tidak dapat dibatalkan untuk melakukan pembayaran kepada pihak beneficiary atas presentasi dokumen yang sesuai dengan syarat dan kondisi L/C.
Irrevocable L/C: jenis L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan secara sepihak, mengikat antara issuing bank terhadap beneficiary.
Product Life Cycle: siklus eksistensi suatu produk dalam pasar.
Standar Deviasi: pengukuran penyimpangan terhadap data data yang tersebar.
Saham: tanda kepemilikan suatu perusahaan, terdapat hak suara atas perusahaan (common stock).
Inflasi: peristiwa kenaikan harga secara keseluruhan.
Jumlah uang beredar: keseluruhan uang yang berada di tangan masyarakat.